Kepergian Saudaraku
Oleh: Kemal Yazid Fauzi
Siang
itu, selepas aku pulang sekolah biasanya aku selalu pergi ke rumah saudaraku.
Namanya Predi atau aku biasa menyebutnya Pidi. Rumahnya kira-kira 20 m dari
rumahku.
Di
rumahnya biasanya aku selalu bercakap-cakap, main game, bernyanyi, dan
mengajaknya untuk bermain ke luar rumah, seperti bermain bola, atau bermain
layang-layang.
Ketika
aku sampai di rumahnya, aku sempat melihatnya di jendela rumahnya, aku melihat
ia sedang tertidur pulas. Mungkin ia kecapean karena tadi ia baru pulang
sekolah.
Jadi,
setelah aku melihatnya aku membulatkan niatku untuk kembali pulang ke rumah.
Tapi,
saat aku hendak melangkahkan kakiku. Aku dipanggil oleh orangtuanya. ”Burhan, mau kemana? Kalau mau
main masuk aja, enggak apa-apa. Bangunin aja Pidinya, mungkin ia Cuma ketiduran,” sahut
orangtuanya kepadaku.
“E-enggak
pak, enggak enak pak, lagi tidurkan Pidinya. Kalau dibangunin nanti disangkanya
enggak sopan,” jawabku.
“Ehh,
enggak apa-apa bangunin aja Pidinya. Enggak apa-apa kok. Temenin Pidi kasihan
enggak ada temen buat main,”
kata orangtuanya lagi.
Lalu
akupun tidak bisa menolak. ”I-iya
pak. Kalu begitu saya masuk dulu yah pak. Assalamu’alaikum,” jawabku
sambil mencium tanganya.
Setelah
itu akupun masuk ke rumahnya, dan memasuki
kamarnya sambil mengucapkan. ”Assalamu’alaikum.”
Saat
aku masuk ke kamarnya. Kulihat Pidi sedang tertidur, aku pun langsung
membangunkannya seraya berkata. ”Pid, bangun Pid. Udah maghrib
Pid solat.”
Dengan kagetnya ia pun terbangun sambil
berkata. ”Astagfirullah,
udah maghrib. Perasaan aku cuma tidur
sebentar.”
“Ha,
ha, ha, ha,” aku pun tertawa geli mendengar
jawabannya.
“Astagfirullah
ternyata kamu Han, ngagetin aja,”
kata Pidi gemas.
“He,
he, Pid main yuk?” aku
mengajaknya.
“Main
apa, kemana?” tanyanya.
“Ya,
kemana aja main bola atau apalah,”
jawabku.
“Ah,
enggak ah,” ia menjawab dengan wajah sedikit sedih.
“Kamu
kenapa Pid. Kelihatannya kamu sedang sedih?” tukasku.
“E-enggak kok. Enggak ada apa-apa,” jawabnya
dengan tenang.
“Mendingan
kita main gitar saja
sambil bernyanyi-nyanyi kaya kemaren,” ajaknya,
sambil mengalihkan pembicaraan.
“Baiklah,” kataku.
Kemudian
kami pun bermain gitar sambil bernyanyi dan bercakap-cakap.
Tidak
terasa kami bermain. Ternyata hari sudah senja lagi. Aku pun bergegas pulang
karena sore itu cuacanya sedang mendung. Benar saja setelah aku sampai di rumah
ternyata hujan sudah turun lagi.
Keesokan
harinya, kebetulan hari itu hari libur jadi aku bisa datang lebih pagi ke rumah
Predi. Kira-kira jam 10 aku pergi ke rumahnya.
Namun, setelah aku sampai di rumahnya. Aku melihat
semua jendela dan gordeng di rumahnya semua pada di tutup, lampu luarnya di
hidupkan, dan tidak ada satupun sandal di teras rumahnya.
“Ah,
enggak ada siapa-siapa kali ya,”
kataku dalam hati, sambil berjalan
bolak-balik. Untuk memastikannya
sebelum aku pulang, aku memanggilnya beberapa kali tapi ia tidak menjawabku.
“Mungkin
lagi keluar kota kali,” kataku lagi dalam hati sambil akan berjalan pulang.
Tapi
beberapa saat kemudian, saat aku ingin berjalan pulang orangtuanya memanggilku
dan menyuruhku masuk ke dalam rumah. Mungkin ada beberapa perkataan yang akan
disampaikannya kepadaku.
Ia
mengatakan. ”Burhan,
Pidi sudah enggak tinggal di rumah ini,
ia pindah ke
rumah saudaranya. Ia merasa sudah tidak nyaman tinggal disini, karena banyak orang
yang memfitnahnya termasuk temen-temennya yang suka kesini, waktu disini mereka
itu baik tapi waktu diluar mereka memfitnah Pidi dan menjelek-jelekan Pidi.
Mereka itu seperti musuh dalam selimut. Jadi bapak suruh saja Pidi supaya
tinggal di rumah saudaranya daripada tinggal disini setiap harinya pasti ada
aja yang menjelekan Pidi, dan karena sebab itu Pidi jadi jarang atau tidak mau
keluar rumah, itu juga demi kebaikannya bapak menyuruhnya pindah,” itulah
beberapa kata yang di ucapkannya sambil menyedot keras-keras rokok kreteknya,
dan asap tebal keluar dari mulut dan lubang hidungnya. Ia pun terbatuk-batuk
karena asap yang tak terkontrol di lubang pernafasannya, asap menyelubungi
wajahnya yang semakin menua.
Lalu,
setelah aku mendengarkan perkataannya tadi aku pun kaget dan merasa sedih.
Pantas saja kemarin Pidi terlihat sedih ternyata itu masalahnya.
Aku
sangat prihatin mendengarnya. Tapi, mungkin setelah ia pindah ke rumah saudaranya kehidupannya akan jauh lebih baik
selain disini.
Tapi,
setelah kepergiannya aku sangat sedih tidak ada lagi teman seperti dia.
Biasanya dia suka membuat orang tertawa tapi sekarang ia sudah pergi
meninggalkanku disini.
Setiap
kali aku melewat ke rumahnya, aku teringat banyak kenangan manis yang tersimpan
di rumah itu. Tapi sekarang rumah itu menjadi sepi, gelap, dan sunyi tanpa
Predi disana. Hanya ada dua orang tua yang sudah tidak muda lagi yang tinggal
di rumah itu. Mereka pasti sedih dan kesepian ditinggalkan anak semata wayangnya.
Sampai
bertemu lagi kawan. Mungkin kemarin adalah pertemuan kita yang terakhir. Tapi, kita pasti akan bertemu lagi nanti
dan aku akan selalu mengingatmu saudaraku. See
You Again My Brother.






0 komentar:
Posting Komentar